Tipe Pribadi “Lower”

Hidup ini bagaikan sebuah anak tangga yang terbuat dari bambu. Semakin tinggi tangganya maka membutuhkan anak tangga yang semakin lebar dan besar. Kenapa itu dibuat ? karena setiap kita naik 1 tangga maka kita akan membutuhkan kekuatan yang lebih. Semakin naik maka kita harus mengeluarkan energi yang lebih. Pun sama halnya ketika kita ingin menduduki jabatan yang lebih tinggi, maka kita haru berusaha dan berjuang lebih kuat dibanding saat kita masih dibawah dulu. Inilah yang namanya hukum positif yang terjadi sebagai konsekuensi korelasi antara kerja keras yang beriringan dengan hasil yang memuaskan. Konsekuensi itulah yang akan membentuk level diri seseorang.

Dalam tulisan ini saya mencoba membagi level seseorang menjadi 3 cluster. Upper, Middle, dan Lower. Bagaimanakah ketiga cluster tersebut terjadi?

Dalam artikel ini penulis ingin membahas dahulu mengenai cluster Lower. Bagaiamanakah seseorang yang berada dalam level ini?

Ketika kita mengenal “Lower” maka yang muncul dalam benak kita yaitu bawahan, rendah, minimalis (terlalu minimal maksudnye). Nah bagaimana sih seseorang yang masuk tipe itu ?

Seorang yang memiliki karakteriristik lower ialah mereka yang menjalani harinya hanya dengan berleha-leha. Mereka tak memahami apa sebenarnya tujuan hidup mereka dan bagaimana menjalani kehidupan ini. Tipe ini dalam kesehariannya suka mengeluh ketika mendapat suatu musibah. Jika musibah itu datangnya dari dirinya maka Ia tak mau untuk mengakuinya. Namun, jika musibah itu datang dari orang lain Ia tak segan mengungkit-ungkit itu secara terang-terangan bahkan di depan orang banyak. Sebegitu mengerikan sikap  lower ini apabila tidak segera ditangani. Meskipun demikian, tak banyak orang yang menyadari bahwa karakter atau sikap tersebut membuat dirinya menjadikan dia termasuk golongan yang rendahan.

Rendahan bukan berarti seseorang yang berada dalam kondisi miskin akan tetapi sikapnya yang acuh tersebut menjadikan pribadinya dangkal serta jiwanya rapuh. Kondisi yang bisa dibilang cukup kronis manakala sang lower tidak berusaha untuk menangkal keburukan atas sikapnya. Konskeuensi yang dapat ditimbulkan ada dua yaitu secara internal dan secara eksternal. Secara internal munculnya penyakit hati seperti iri dan dengki apabila melihat orang lain bahagia, merasa tidak ada empati ketika ada tetangga atau temannya sedang mengalami penderitaan. Jika secara eksternal, maka pengaruh yang akan ditimbukan yaitu orang-orang tidak menghargai apa yang Ia kerjakan, bahkan sampai munculnya sanksi sosial.

Sanksi sosial merupakan sanksi yang diberikan oleh masyarakat akibat dari ulah atau perbuatan kita. Salah satu contoh sanksi sosial yaitu dikucilkan dari masayarakat. Konsekuensi itulah yang menjadikan seseorang menjadi “Lower”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s